Si
Blush
By :
Marlin Ari Astuti
Aku
biasa dijual di toko rias, banyak wanita yang selalu mencari-cariku untuk
dipakai merias wajah dan pipinya. Aku merasa jenuh karena sudah terlalu lama
aku hanya terpajang ditoko ini tanpa ada yang membeliku dan menggunakanku.
Tetapi suatu hari ada seorang wanita dengan paras wajahnya yang cantik dan
rambut yang panjang mendatangi toko dimana aku dijual. Wanita itu bernama
Barbara ia tak lain adalah seorang model cantik. Ditoko ini ia membeli beberapa
alat make-up dan juga ia membeliku (blush). Aku sangat senang ketika ada orang
yang akhirnya membeliku dari toko ini, jadi sekarang aku tak hanya terpajang
saja, tetapi aku sudah bisa beraktifitas dengan merias wajah dan pipi wanita
cantik ini.
Setelah
Barbara membeliku, ia langsung menggunakanku untuk merias wajahnya sambil
berbicara di depan cermin “Blush ini sangat bagus dan lembut sekali ketika
digunakan dipipiku”. Tutur Barbara.
Aku
sangat senang sekali saat mendengar Barbara berbicara seperti itu. Karena
Barbara sangat menyukaiku ia menjadikanku suatu benda yang sangat berharga bagi
dirinya. Kemanapun ia pergi aku selalu dibawanya di dalam tas mininya. Barbara
merasa setelah merias wajahnya dengan aku, ia merasa semakin lebih cantik.
Barbara juga menceritakan kepadanya teman sesama modelnya yaitu Claudia, jika
aku sangat lembut sekali digunakan. Setelah Barbara menceritakan kepada
temannya itu, Claudia pun tertarik untuk mencoba ku dan meminjamnya dari
Barbara, karena Barbara memiliki sifat yang sangat baik hati, ia pun
meminjamkan aku kepada temannya itu.
Saat
ingin melakukan pemotretan Claudia merias wajahnya dengan mencoba
menggunakanku. Setelah ia menggunakanku untuk merias wajahnya, Claudia berkata
yang sama kepada Barbara kalau aku sangat nyaman dan lembut sekali saat
digunakan dan hasil riasan make-up ku terliat lebih indah serta wajahku
terlihat lebih cantik.
Claudia
pun ingin meminjam aku lagi dari Barbara untuk beberapa hari kedepan, namun
karena Barbara tak bisa pisah dariku, ia tak meminjamkan aku. Karena pemotretan
sudah selesai dan hari pun sudah sangat larut malam, akhirnya Barbara
berpamitan kepada Claudia untuk pulang.
Keesokan harinya saat ingin melakukan
pemotretan kembali, mereka merias wajahnya bersama diruang make-up dan tak lupa
dengan menggunakanku. Seperti biasa Claudia ingin meminjamku lagi dari Barbara.
saat akan dilakukan pemotretan, Barbara mendapatkan giliran pertama untuk di
foto. Seusai pemotretan Barbara kembali keruang make-up, ia mencariku di tas
mininya untuk merias wajahnya kembali.
Namun
ketika Barbara melihat ke tas mininya ia tak menemukanku, ia juga mencari di
meja rias, tapi aku pun tak ada juga. Barbara terlihat sangat panik saat aku
menghilang dari tas mininya. Ia lalu bertanya kepada Claudia tentang Blushnya
yang hilang, tetapi Claudia tak mengetahuinya dimana aku berada. Ia juga
bertanya kepada teman-temannya yang lain, dan mereka pun tak mengetahuinya.
Barbara
terlihat sangat sedih ketika kehilanganku, sampai ia tak mau dirias tanpa
mengunakanku. Sudah 3 hari aku hilang dan tak bersama Barbara. Aku juga merasa
sangat sedih dan kangen dengan Barbara, aku ingin berada disampingnya lagi dan
digunakan untuk merias wajahnya yang sangat cantik.
“Aku jenuh sekali karena sudah
tiga hari ini aku berpisah dengan barbara. Aku sangat merindukannya, aku juga
kangen dengan kelembutannya. Dengan Claudia aku diperlakukan kasar, dia tidak
merawatku dengan sepenuh hati seperti yang biasa dilakukan oleh barbara. Aku
sangat tersiksa bila terus menerus bersama Claudia, aku ingin kembali kepada
Barbara.” said me.
Hingga
suatu ketika Barbara melihat Claudia sedang merias wajahnya dengan menggunakan
Blush yang mirip dengan Blush nya yang hilang, lalu Barbara langsung bertanya
kepada Claudia.
Barbara : Claudia, sepertinya aku mengenali Blush
itu
Claudia :
Oh..iyah, Blush ini baru aku beli kemarin
(Berbicara dengan raut wajah panik)
Barbara :
memang kamu beli blush ini dimana?
Claudia :
Aku beli di toko tempat kamu beli blush bar..
Barbara :
tapi Kok Blush kamu sama seperti Blush aku yang hilang yah...
Claudia :
Oh... Mungkin hanya perasaan kamu saja
Barbara :
Coba aku lihat Blush nya (Langsung
mengambilnya dari tangan Claudia)
Claudia :
Eh.. Bar, jangan main rebut saja dong (Berbicara
dengan nada tinggi)
Setelah Barbara melihat dan memperhatikan Blush
ini (aku), ternyata benar bahwa ini adalah aku yang hilang. Barbara terlihat
sangat marah ketika mengetahui selama ini temannya sendiri “Claudia” yang
mengambilku dari tas mininya.
Namun
akhirnya Claudia menyadari dan mengakui bahwa ia yang telah mengambilku
diam-diam dari tas mininya, dan Claudia pun segera meminta maaf kepada Barbara
bahwa ia telah menyesali perbuatannya itu. Dengan sifat baik hatinya Barbara
pun memaafkan Claudia dan Barbara tidak marah lagi dengannya. Dan pada akhirnya
aku kembali lagi ke genggaman Barbara.